Rabu, 11 Desember 2013

KONSULTASI ARSITEKTUR

RENOVASI RUANG PENDIDIKAN MASJID


Assalaamu’alaikum Wr. Wb 
Kami pengurus Masjid Nurul Ihsan di Pejaten – Jakarta hendak merenovasi masjid. Lahan yang ada memang terbatas. Hingga kami putuskan untuk membuat cor lantai 2 di samping jalan masjid.
Proses pengecoran sudah selesai. Namun kami bingung membuat disain luarnya. Agar nampak indah dan mencirikan bangunan Islam. Sesuai dengan data yang ada, kami menginginkan 3 ruang kelas TPA ( Taman Pendidikan Al-Qur’an ), satu ruang tidur marbot dan dapur kecil.Mohon kiranya dibuatkan disain yang cantik agar kegiatan belajar dan mengajar di masjid kami dapat berjalan dengan lancar.Terimakasih atas bantuannya.Wassalaamu’alaikum wrwbAgus – Sekertaris Masjid Nurul Ihsan – Pejaten – Jakarta
Wa’alaikum salam wrwb

Rumah Modern Bergaya Klasik - Eramuslim

Rumah Modern Bergaya Klasik - Eramuslim

Rabu, 10 Juli 2013

Si Kecilku Yang Lucu...!

http://picasion.com/i/1VgIk/ Zona Cyber Man

Menjaga Pahala Puasa

Puasa tak hanya menahan diri dari lapar dan dahaga. Seluruh anggota tubuh harus dijaga agar pahala puasa tak berkurang. Agar puasa kita tetap berbuah pahala, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Antara lain :

Menahan Pandangan 
Yaitu, menahan mata dari melihat hal-hal yang diharamkan, melihat aurat, dan wanita yang bukan mahramnya. Karena wanita itu adalah aurat dan dapat mendatangkan fitnah. Allah SWT telah berfirman, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat,” (QS an-Nur: 30). Dalam ayat lain Allah SWT berfirman,“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya,” (QS al-Isra’: 36)
.
Menjaga Pendengaran
Yaitu, menjaganya dari segala hal yang diharamkan atau yang dibenci, karena manusia akan ditanya tentang pendengarannya, sebagaimana pula ditanya tentang penglihatannya. Orang yang mengucapkan perkataan buruk atau ucapan batil dan orang yang mendengarkannya, maka kedua-duanya telah berserikat dalam perbuatan dosa.

Menjaga Lisan
Yaitu, memeliharanya dari segala ucapan buruk dan keji, dari memfitnah dan sebagainya. Maka wajib bagi seorang yang berpuasa untuk meninggalkan ucapan dusta, ghibah (menggunjing),namimah (adu domba), bertengkar, mencaci maki dan mencela orang lain.
Hendaknya dia memilih diam atau menyibukkan diri dengan sesuatu yang dapat.  

Menjaga Perut 
Maksudnya adalah jangan sampai memasukkan sesuatu yang haram ke dalam perut, baik berupa makanan atau minuman. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Tidak masuk surga daging yang tumbuh dari suht (penghasilan haram)," (HR Ibnu Hibban).

Seorang Muslim berpuasa menahan diri dari yang halal, maka selayaknya dia pun menahan diri dari yang haram yang dapat mencelakakannya. Seorang Muslim jangan sampai menipu di dalam bermuaamalah atau menjual dagangannya dengan sumpah palsu. Demikian pula hendaknya dia jangan mengambil penghasilan dari segala yang berbau riba.
  
Menjaga Kemaluan 
Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang dapat menjamin untukku apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku menjamin untuknya surga," (HR Bukhari).

Menjaga Tangan dan Kaki 
Yaitu jangan sampai tangan tersebut melakukan sesuatu yang haram (seperti memukul orang), dan kaki jangan sampai melangkah menuju yang haram. Seluruh adab-adab yang tersebut di atas hendaknya senantiasa dijaga oleh setiap Muslim kapan saja, bukan hanya ketika berpuasa. Adapun ketika puasa, hal itu sangat ditekankan.
Kalau seseorang dapat menjaga diri dari segala yang diharamkan, baik pendengaran, penglihatan, makanan, minuman, langkah kaki dan gerakan tangan, maka diharapkan dia akan menggapai ampunan Allah SWT dan kebebasan dari api neraka. Jika pada bulan Ramadhan, ia bisa meninggalkan perbuatan tersebut, tentu di luar Ramadhan, ia juga bisa meninggalkannya.

Rabu, 18 Mei 2011

MENDAMBAKAN ANAK SHOLEH

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: َقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى لِي هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ". أخرجه أحمد

"Apabila seorang anak Adam meninggal dunia,maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara iaitu Sedekah jariah,Ilmu yang bermanfaat dan do'a anak sholeh"

Anak polah bopo kepradah,
Mikul duwur mendem jero,
Jadilah anak yg berbakti kepada orang tua."

Apa yang biasa dikatakan orang saat mendapat berita kelahiran seorang bayi?
"Selamat ya, semoga jadi anak sholeh/sholehah, qurrata a`yun, berbakti pada orang tua, berguna bagi nusa dan bangsa serta agama, rajin, taat, pintar." 
Dan ...bla..bla...

Kira-kira seperti itu yang sering dibaca atau didengar. Berbagai harapan dari orang tua pun terangkaikan mengiringi kelahiran sang buah hati. Harapan agar sang anak menjadi anak sholeh/sholehah  biasanya menjadi urutan pertama dalam rangkaian do`a dan korelasinya adalah ke akhirat.

قَالَ العَلّامَةُ السِّنْدِيُّ فِي "شَرْحُ سُنَنِ ابْنِ مَاجَه": (بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ) أَيْ فَيَنْبَغِي لِلْوَلَدِ أَنْ يَسْتَغْفِر لِلْوَالِدَيْنِ. انْتَهَى كَلَامُهُ رَحِمَهُ الله. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ، رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا 

Setiap orang beriman tentu ingin bahagia dunia-akhirat, dan hendaknya akhirat menjadi prioritas utama. Rasanya tidak akan bermanfaat kesuksesan dunia yang diperoleh tanpa diiringi kesholehan. Harta yang banyak, otak yang encer, wajah yang rupawan serta fisik yang sehat tak ada artinya bila hati dengki, sombong, pembohong, tidak punya sopan santun serta perilaku negatif lainnya melekat didiri. Di kehidupan dunia dibenci dan dicaci, di akhirat pun tak luput dari perhitungan-Nya.

Sholeh/sholehah sudah menjadi kunci awal untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Pribadi  sholeh/sholehah adalah pribadi menyenangkan yang senantiasa dapat menyeimbangkan antara dunia dan akhiratnya. Orientasinya adalah akhirat dan dunia adalah sarananya untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki tersebut.
Setiap kita tentu ingin menjadi pribadi yang sholeh/sholehah dan itu  juga harapan yang selalu kita gantungkan  kepada keturunan kita dalam do`a-do`a yang kita panjatkan . Tapi tentu saja tidak mudah untuk mendapatkannya, perlu ketabahan, kesungguhan dan kekuatan tekad yang perlu dijaga.

Saya tidak tau pasti apa yang dikatakan orang non muslim terutama atheis bila mendapat kabar kelahiran seorang bayi. Mungkin ucapan `Semoga sukses` yang tentu saja orientasinya dunia.



                                               

KIAT MENJADI ANAK SHOLEH

 Barang siapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barang siapa yang memberikan contoh yang buruk didalam Islam maka baginya dosa atas perbuatannya dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang-orang yang mengikutinya” (HR Muslim)


Sungguh hadits ini mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam memberikan contoh, apalagi sebagai orang tua, kita dituntut lebih hati-hati. Sengaja atau tidak, ada efek negatif maupun positif. Kesalahan dalam membentuk karakter anak tanpa sengaja dapat terjadi dengan keteladanan yang buruk. Akibatnya bisa fatal, yaitu membentuk karakter yang rusak. 

Memang banyak tips dan cara untuk mendidik anak, ada yang dengan metode A ada yang menyarankan dengan metode B. Namun, dari setiap metode-metode yang selama ini saya baca, keteladanan adalah metode yang jitu dalam pendidikan anak-anak di keluarga. Disini saya akan membahas fakta tentang pendidikan di rumah, pentingnya keteladanan dalam pendidikan, dan bagaimana orang tua agar mampu menjadi tauladan yang baik untuk anak


Pertama, cara mendidikan anak-anak dalam rumah. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan itu akan terbentuk hanya di sekolah-sekolah, jadi tidaklah perlu orang tua mengarahkan anak-anaknya dirumah. Bahkan ada sebagian orang tua yang tidak tahu tujuan dalam mendidik anak. Perlu kita pahami, bahwasannya pendidikan dirumah yang meskipun sering disebut sebagai pendidikan informal, bukan berarti bisa diabaikan begitu saja. Orang tua harus memahami bahwa keluarga merupakan institusi pendidikan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan institusi pendidikan formal. Ini bisa dimengerti karena keluarga merupakan sekolah paling awal bagi anak. Di keluargalah seorang anak pertama kali mendapatkan pengetahuan, pengajaran dan pendidikan. 
Selain itu, orang tua juga harus mengetahui apa tujuan mereka mendidik anak-anaknya, apakah hanya sekedar bisa survive di dunia ini ataukah menginginkan anak-anaknya menjadi generasi yang unggul. Tujuan utama pendidikan adalah untuk melahirkan generasi-generasi yang berkepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyyah), atau dengan kata lain, tujuan kita mendidik anak adalah untuk menjadikan mereka anak-anak yang sholeh/sholehah. Dan ini merupakan tugas utama sebagai orang tua. Setiap orang tua muslim pasti menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh/sholehah, karena mereka nanti adalah aset yang sangat berharga baik di dunia maupun diakherat. Di dunia mereka akan senantiasa patuh pada Allah dan kedua orang tuanya, dan bisa menjadi kebanggan keluarga, sedangkan di akherat nanti mereka akan menolong kedua orang tuanya, karena amalan yang tetap mengalir meskipun orang tua meninggal adalah doa anak sholeh/sholehah.
Kedua, pentingnya teladanan dalam mendidikan. Sebagaimana kita ketahui, Allah juga memberikan contoh-contoh Nabi atau orang yang bisa kita jadikan suri teladan dalam kehidupan atau peringatan agar kita tidak menirunya, sebagaimana firmanNya: “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji” (Qs. al Mumtahanah [60]: 6)
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al-Ahzab [33]: 21)
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Qs. Luqman [31]: 12)
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa” (Qs. al-Lahab [111]: 1)

 
Oleh karena itu, keteladanan dalam dunia pendidikan adalah sangat penting, apalagi kita sebagai orang tua yang diamanahi Allah berupa anak-anak, maka kita harus menjadi teladan yang baik buat anak-anak. Kita harus bisa menjadi figur yang ideal bagi anak-anak, kita harus menjadi panutan yang bisa mereka andalkan dalam mengarungi kehidupan ini. Jadi jika kita menginginkan anak-anak kita mencintai Allah dan RosulNya maka kita sendiri sebagai orang tua harus mencintai Allah dan RosulNya pula, sehingga kecintaan itu akan terlihat oleh anak-anak. Akan sulit untuk melahirkan generasi yang taat pada syari’at jika kedua orang tuanya sering bermaksiat kepada Allah. Tidaklah mudah untuk menjadikan anak-anak yang gemar mencari ilmu Allah jika kedua orang tuanya lebih suka melihat televisi daripada membaca dan datang ke ceramah-ceramah, dan akan terasa susah untuk membentuk anak yang mempunyai jiwa pejuang dan rela memberikan segalanya untuk kepentingan Islam, jika bapak ibunya sibuk dengan aktivitas kerja meraih materi dan tidak pernah terlibat dengan kegiatan dakwah. Sebagai contoh, apa yang terjadi di Palestina, setiap generasi disana sejak kecil sudah menjadi mujahid, jiwa mereka sudah tidak ada rasa takut terhadap kematian dan mereka siap melakukan apa saja demi kejayaan Islam, ini semua karena orang tua mereka memberikan contoh nyata kepada mereka. 
Disamping itu, tanpa keteladanan, apa yang kita ajarkan kepada anak-anak kita akan hanya menjadi teori belaka, mereka seperti gudang ilmu yang berjalan namun tidak pernah merealisasikan dalam kehidupan. Kita selalu mengajarkan agar anak kita mencintai Allah, namun kita sendiri lebih mencintai dunia…maka pengajaran tentang hal itu akan sulit untuk direalisasikan. Yang lebih utama lagi, metode keteladanan ini bisa kita lakukan setiap saat dan sepanjang waktu. Dengan keteladanan pengajaran-pengajaran yang kita sampaikan akan membekas dan metode ini adalah metode termurah dan tidak memerlukan tempat tertentu. Jadi…mampukan kita menjadi uswatun hasanah bagi anak-anak kita??
 
Untuk mampu menjadi uswatun hasanah, syarat utama adalah kita sebagai orang tua harus tahu Islam secara menyeluruh, bagi yang belum tahu Islam tidak ada kata terlambat, belajar Islam menjadi prioritas agar kita menjadi uswah yang ideal buat anak-anak. Islam adalah landasan yang ideal untuk membentuk suatu kepribadian, karena Islam adalah aturan yang menyeluruh bagaimana manusia hidup di dunia ini.

 
Khatimah
Mempunyai anak sholeh (anak yang berkepribadian Islam) adalah impian setiap orang tua, dengan keteladanan sepanjang masa adalah metode paling efektif. Orang tua juga harus mampu menjadi uswah yang baik buat anak-anaknya, namun janganlah lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar anak-anak kita menjadi sholeh/sholehah. ( abesabile )